Book Review: Ma Yan by Sanie B. Kuncoro


Untuk kamu yang masih sekolah ataupun bekerja, sempatkah kalian berpikir kalian adalah manusia yang paling menderita saat berada di ujung kelelahan rutinitas?


Mungkin keluhan kalian hanyalah sebagian kecil jika dibandingkan dengan kisah nyata di daerah terpencil negara China ini.


Disajikan dengan 3 sudut pandang yang berbeda: penulis, seorang ibu dan anak perempuannya.


Berawal dari "sejarah hidup" si ibu. Dia harus menanggung kemiskinan sedari kecil sehingga tidak bisa melanjutkan pendidikan dan terpaksa putus sekolah. Yang dia bisa hanyalah menari dan menyanyi, tanpa sempat belajar membaca dan menulis. Dengan keterbatasannya itu, saat umurnya sudah mencapai kematangan, dipaksalah dia menikah dengan anak seorang mantan veteran.


Menikah dengan lelaki yang dipilihkan keluarga, ternyata tidak juga merubah garis takdir kehidupannya. Dia tetap harus menjalani kemiskinan dan kelaparan. Ditambah lagi dengan bebannya untuk menghidupi kedua anak laki-laki dan satu anak perempuannya, Ma Yan.


Ma Yan dan satu adik laki-lakinya harus menempuh jalan sejauh dua puluh kilometer hanya untuk sampai sekolah. Sering, mereka hadapi ular-ular berbisa dan para pencuri di dalam perjalanan. Oleh karena itu, Ma Yan memilih untuk ikut menumpangi mobil traktor dengan persetujuan membayar satu yuan.


Mungkin satu yuan tidaklah berarti untuk teman-teman sebayanya. Tetapi berbanding terbalik dengan keadaan Ma Yan, untuk membeli sepuah pena seharga dua yuan pun ia harus rela "berpuasa" selama dua minggu. Seringkali ia merasakan perih dan lapar, seakan-akan kedua rasa tersebut sudah menjadi hal biasa bahkan "bersahabat" dengan kondisi keluarganya.


Ibunya yang seorang petani hanya mengandalkan hasil panen dan ayahnya, yang seringkali tertipu oleh mandor yang memperkerjakannya di konstruksi. Sang Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya. Sampai-sampai sakit perutnya membutuhkan pengobatan karena sering menahan rasa lapar.


Dengan keterbatasan yang semakin menjadi, si ibu meminta dengan rasa sangat terpaksa kepada Ma Yan untuk berhenti sekolah. Uang yang tersisa tidak cukup untuk membayar biaya sekolahnya sampai semester depan.


Tetapi Ma Yan tidak begitu saja mau menerima permintaan ibunya. Ia mau menjadi sesuatu yang bisa menyelamatkan kemiskinan keluarganya lewat pendidikan. Ia mau ibunya tidak perlu lagi bersusah payah bekerja sampai tangannya membengkak.


Cerita Ma Yan sangat direkomendasikan untuk kita yang seringkali merasa sudah berada di puncak ambang kepasrahan. Buku ini juga menjadi "tamparan" untuk saya sendiri yang selalu mengeluh dengan jarak dari rumah ke kantor yang jauh.


Satu hal yang saya sukai dari buku ini: Keteguhan si ibu. Patut kita contoh kegigihannya bertahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


I give it 5/5 stars rating.


:)



Entahlah. Tapi ingin kuyakinkan kepada diriku sendiri, bahwa tidak akan kuwariskan kemiskinan itu kepada keturunanku. Tidak akan kutempatkan anak-anakku pada jalur kemiskinan yang telah kulalui. Cukup, cukuplah aku saja, ibu dan ayahnya yang menempuh jalur ini. - Pg. 37

Aku mengerti bahwa kita tidak bisa mengandalkan kerabat kita. Bila seseorang yang bukan keluarga meminjam sesuatu kepada kita, ia pasti akan ingat jasa kita. Ia berlainan dengan orang-orang yang terkait hubungan keluarga—mereka tak akan meminjamkan kita apa pun meski kita sangat membutuhkannya. - Pg. 76



Kuterima pena itu dengan gemetar. Jantungku berdebar. Kugenggam pena itu erat-erat. Kuingat nasi tak berasa yang harus kutelan berhari-hari sekian pekan demi pena ini. Kuingat lauk-lauk dalam lamunan yang perlahan menjauhiku. Kuingat pedih di rongga perut berisi kelaparan yang panjang. Pedih yang membuat perutku serasa tipis, hanya selembar kulit tipis yang membalut tulang-tulang rongga perut. Malam-malam yang panjang, berteman rasa lapar yang tiada berkesudahan. - Pg. 83

Ibuku adalah seorang ibu yang terlalu menyayangi anak-anaknya. Sehingga setiap air mata anak-anaknya akan menggoreskan kepedihan di dalam dirinya. Air mata anak-anaknya serupa tetes-tetes kepedihan baginya. - Pg. 97



Hidup Ibu menderita. Bila aku berhenti sekolah, aku akan menjadi seperti Ibu dengan segala penderitaan itu. Apakah itu yang harus terjadi kepadaku? Sekolah adalah persemaian masa depan, peluang untuk meraih sesuatu, berhenti sekolah berarti kehilangan peluang itu. Ibu, kumohon berikan kepadaku kesempatan untuk meraih peluang itu. Lakukanlah sesuatu sehingga terelak dariku garis nasib seperti Ibu. - Pg. 160

Akulah ibu yang berupaya membekali anaknya supaya langkah mereka tak terhenti menuju masa depan bercahaya. Akulah ibu yang akan melakukan daya upaya apa pun supaya sejarah derita di dalam dirinya tidak berulang kepada anak-anaknya. - Pg. 168



Begitulah, sebuah olokan, ejekan atau hinaan, dan cemoohan tidak selalu mengakibatkan sesuatu yang buruk. Beergantung sepenuhnya pada bagaiman kita mengolah hinaan itu. - Pg. 184

Hanya diyakininya satu hal, bahwa di suatu belahan bumi, pada salah satu sudut terjauh yang terabaikan, ada sepasang tangan ibu yang dengan segala keterbatasannya berjuang sepenuh daya membuka pintu pendidikan bagi anak-anaknya. Tangan itu digerakkan oleh suatu keyakinan bahwa membuka pendidikan adalah jalan melepaskan diri dari kesengsaraan dan ketertindasan. Perjuangan itu sangatlah tidak mudah, menguras kekuatan fisik, menderakan penderitaan menggoyahkan ketabahan, dan mengundang rasa putus asa di setiap langkah. Dan, seorang ibu buta huruf dengan kekuatan tangannya memperjuangkan semua itu demi anak-anaknya. - Pg. 231

Post a Comment

Previous Post Next Post